jam 2 pagi, atau malam ?
bagiku pagi, pikiran bermunculan, tidak terasa kantuk pun
gagal lagi, gagal lagi … gagal ?
kalau yang ini, nanti dulu
kehilangan (di dalam hidup saya) adalah sesuatu yang biasa
tidak kaget
meskipun, ya, meskipun pemuka spiritual tidak menganjurkan rasa kepemilikan pada sesuatu
yah, apa boleh buat, 80 persen dari waktu saya memang tidak terpikir
namun sisanya
tak terpungkir, akan terpikir
kenapa belum ada pula manis manis nya kesuksesan bagi ku yang berusia 3 kepala ini
ini relatif ya
sekali lagi ini relatif
rasa rasanya ambisiku telah memakan akal sehatku
tidak, tidak, bahkan bertahun tahun belakangan kegagalan ku berawal dari ambisi
pun demikian, apa jadinya aku kalau tidak berambisi ?
tak mencoba tuk salahkan apapun
hanya penasaran saja, apakah prasyarat kesuksesan (kesuksesan yang dijatahkan kepada saya oleh Tuhan YME) itu harus gagal berapa kali kah ? atau harus apa kah ? ini itu kah ?
kapasitas menerima kekalahan ku pun sekarang sudah agak mati rasa, sepertinya
tahun tahun dulu, istilah kata gagal dengan nilai kuantitas 1 pun aku tumbang
namun sekarang 1000 aku masih senyam senyum saja
apakah benar harus mematikan rasa itu, semoga kalaupun kelak begitu , ku tidak kehilangan kemanusiaan saya
terlebih
ini , sekarang
hidup ini, bagiku tak lebih dari sekedar paradoks
setidaknya, sedikit demi sedikit aku mengetahui itu
dan dengan bangga nya, bekas bekas kegagalan itu (dan ini) menjadi kebanggaanku
kalau aku pernah mencoba melawan takdir
maaf ya, orang orang yang sudah membantuku sampai sekarang
aku belum bisa balas budi